Sabtu, 06 Juni 2009

bercakap-cakap di tengah malam

kalau mengingat masa-masa dulu agak "geli" juga, hampir setiap malam aku dan dia bercakap lewat telepon. Ya, awalnya aku yang minta agar tiap malam (setelah dia pulang kerja) untuk menelponku. Karena aku pikir kalau pada malam hari suasana untuk "ngomong" lebih hangat dan "mesra", hehehehe.
Yang pasti aku senang sekali saat ditelpon sama dia, ayahku. Siapa sich yang tidak senang ketika dekat sama orang yang disayangi, walau hanya lewat telpon, hiks2....
tapi betapa nasibnya aku, ketika pada suatu malam (saat asyk telpon sama dia) bapaku tiba-tiba memanggilku dengan suara yang agak keras sambil bilang padaku "....telpon wengi-wengi, po ora ono dino meneh, mandhek po ora! opo tak banting hp ne!!!!!" hufft.....(sebel nich)
ya, semenjak itu aku jarang calling ma dia khususnya di tengah malam, bahkan sekarang malah tidak pernah. Tapi tidak apa-apa lah, ya walaupun aku sedikit sedih tapi itu juga demi kebaikan kita bersama, apa lagi buat dia. Karena aku juga nyadar kalau pada saat tengah malam dia capek banget (habis pulang dari kantornya).
yach, tapi sebenarnya aku kangen dengan saat-saat telpon tengah malam dengan segala kemesraannya.
Aku sayang kamu ayahku.

Selasa, 31 Maret 2009

cerita lalu

semoga ini bukan cerita lalu yang hanya menjadi lembar-lembar catatan dalam buku harian kita

sms terakhir

"relakan kepergiannya......"

ketika

waktu tinggal sesaat lagi
untuku melihatmu
dalam balutan
putih abu-abu
ketika semua itu
kau tanggalkan
masihkah
kau tetap menjadi
seperti saat ini?

every single day

setiap saat
kau panggil
ayah...
ada yang hanyut
dalam hatiku

Rabu, 11 Maret 2009

0703

Kereta api Fajar Semarang dari stasiun Senen Jakarta,pukul 07.15 membawaku menuju kota yang sudah lama aku rindukan, Semarang. Sabtu 07 Maret 2009 akhirnya ada waktu juga aku mewujudkan angan-angku untuk ke kota Amsterdam van Java itu, sekaligus aku pengen menemui seseorang yang selama ini selalu memanggilku Ayah. 9 jam perjalanan dengan kereta bisnis yang panas dan sesak--libur 3 hari biasanya perantau asal Jawa Tengah di Jakarta pada pulang kampung--jadi suasana dalam kereta pasti penuh, seperti lebaran saja. Wajahnya dalam foto yang manis membayangiku untuk segera bertemu dengannya, apalagi dalam setiap SMSnya dia begitu merindukan pelukan "seorang ayah".
Pukul 15.15 kereta tiba di Stasiun Tawang. Dia masih dalam perjalanan menuju ke stasiun setelah mengikuti kegiatan di sekolahnya. 10 menit berlalu dari saat aku menunggu, sosok lelaki kecil, dengan pakaian "kebesarannya" seragam sekolah dibalut jaket hitam yang jadi favoritnya muncul dari pintu masuk dan langsung menebarkan senyumnya padaku. "Ahh....ini dia seorang anak SMA (SMK) yang selama ini menganggapku sebagai ayah," gumamku dalam hati sembari menjawab senyumannya dari jauh. "hai.." sapaku singkat ketika dia sudah berdiri di depanku sambil menjulurkan telapak tangku untuk bersalaman dengannya.Dia hanya tersenyum, dari sikapnya tampak sekali dia grogi dan salah tingkah, sepertinya ingin mengatakan sesuatu tapi tak sepatah katapun keluar dari mulutnya."Deg--degan nih," jawabnya singkat.Untuk mencairkan suasana, aku ajak dia makan, kebetulan emang aku juga belum makan dari pagi, di warung sebelah stasiun dan akhirnya sambil makan bisa ngobrol dengan agak santai. "Kamu dah sholat?" tanyaku usai makan. aku tahu dia rajin sholat, apalagi anak dari Kota Wali pastilah. Usai makan kami menuju masjid stasiun untuk Sholat Ashar. Setelah itu melihat-lihat suasana sekitar dan tertuju pada sebuah kolam di depan Stasiun Tawang untuk ambil gambar. Dari stasiun kemudian perjalanan dilanjutkan ke Pasar Johar, rencana mo cari penginapan di sana--tepatnya daerah Kauman (dari saran temen)--tapi ternyata seperti masuk di kawasan slum dan tak sesuai untuk istirahat yang butuh suasana tenang n nyaman, coz disitu berisik, berjejalan, sumpek, pokoknya ga enak buat menyepi. Akhirnya setelah pertimbangan sana-sini kami putuskan untuk nyari penginapan di daerah atas (maksudnya di Semarang bagian atas) dan dapatlah hotel SI yang suasananya tenang, adem, sepi tapi tak jauh dari supermarket sehingga mudah untuk berbelanja sesuatu kebutuhan. Letak hotel itu juga tidak jauh dari pertigaan ke arah dari dan ke Jogja/Solo. (cerita ini masih akan berlanjut di posting berikutnya)

Sabtu, 28 Februari 2009

Mranggen

Semalam aku browsing di internet cari Kota Mranggen. Melalui wikimap aku bisa menelusuri detil kota itu, bahkan sampai ke sebuah kawasan bernama Kauman, yang ternyata adalah tempat tinggal dia. "Menyusuri" jalanan maupun tempat-tempat yang disebut di peta itu sepertinya kota yang terletak berbatasan antara Demak dengan Semarang itu bisa membawaku ke masa-masa kecil dulu. Aku semakin penasaran untuk mengetahui secara langsung dan berjalan-jalan ke kota kecil itu (namanya gak beda jauh--pengucapannya-- dengan kota ku).

Jumat, 27 Februari 2009

Janji Suci

Gundah menancap di hatiku
menahan rindu yang kian mendekap
ingin kupeluk bayangmu,
namun tak kuasa kugapai
jarak yang merentang
hanya cinta yang mampu kutebar
agar bersemi selalu di kalbu

--Ayah untuk dd--

Rintik hujan membelai malam
bagai kasihmu yang sejukkan jiwaku
desau angin malam laksana bisikan sayang,
yang hangatkan hatiku
bilakah semua itu akan menjelma jadi cinta di kalbu?

Sabtu, 21 Februari 2009

SEMARANG

sudah lama tidak jalan-jalan ke Semarang, terakhir pertengahan tahun lalu, itupun hanya sebentar karena ada tugas kantor. pertama kali main ke ibu kota Jawa Tengah ini sudah cukup lama, mungkin ketika waktu masih kuliah. Ntah kenapa Semarang menjadi salah satu kota yang aku sukai, padahal banyak yang mengeluh, udara di kota ini panas, sering banjir, tapi ada sesuatu dari kota ini yang selalu membuatku ingin main ke sana, apa itu entahlah. Salah satu tempat yang aku rindukan adalah rumah kakakku, di Njegir/Ngesrep. lokasinya di Semarang atas, tepatnya sekitaran Patung Diponegoro gerbang kampus Undip Tembalang. Hanya kesibukanku sekarang ini membuat aku tak ada waktu untuk sering2 main ke daerah yang aku sukai, termasuk Semarang. Tapi aku pengen banget ke Semarang (lagi).

Kamis, 12 Februari 2009

11 Januari

11 Januari yang lalu dia genap 18 tahun, karena tgl kelahirannya sesuai dengan lagunya Gigi so tembang itu salah satu jadi favoritnya. Saat itu memang aku dan dia belum saling kenal, meskipun telat sebulan semoga dia masih mau nerima kado lagu ini.


11 JANUARI
by Gigi

Sebelas Januari Bertemu
Menjalani Kisah Cinta Ini
Naluri Berkata Engkaulah Milikku
Bahagia Selalu Dimiliki
Bertahun Menjalani Bersamamu
Kunyatakan bahwa Engkaulah jiwaku

Akulah Penjagamu
Akulah Pelindungmu
Akulah Pendampingmu
Di setiap langkah-langkahmu
Pernahku Menyakiti Hatimu
Pernah kau melupakan janji ini
Semua Karena kita ini manusia

Akulah Penjagamu
Akulah Pelindungmu
Akulah Pendampingmu
Di setiap langkah-langkahmu


Kau bawa diriku
Kedalam hidupmu
Kau basuh diriku
Dengan rasa sayang
Senyummu juga sedihmu
adalah Hidupku
Kau sentuh cintaku dengan lembut
Dengan sejuta warna

Senin, 09 Februari 2009

kanker otak

Suatu Hari Klo Memang Terjadi Kau dan Aku Sudah Tidak Bisa Bersama Lagi, Ketahuilah, Hal Terindah Yg Kan Ku Bawa Pergi........."MENGENALMU", Terima Kasih Banyak Ayah.

Terhenyak aku membaca SMS yang dia kirimkan semalam? aku tak tahu kenapa dia bicara seperti itu? apakah dia akan meninggalkanku, padahal belum genap dua minggu aku mengenalnya. aku sempat bertanya2 dalam hati apa salahku? akhirnya kuberanikan diri untuk bertanya apa maksudnya mengirimkan SMS seperti itu, ternyata jawaban yang dia berikan membuatku lebih tersontak dari sebelumnya. Kalau dia meninggalkan aku karena kesalahanku, itu wajar saja dan aku bisa menerimanya. Namun dia bilang bahwa dia mengidap kanker otak--oh my God--yang katanya sudah 1 tahun belakangan ini. Aku sempat terhenyak tak mampu berkata apa2, kenapa dia harus menanggung beban seperti itu, sementara beban hidupnya yang lain sepertinya sudah cukup membuatnya menderita. Dia memang belum mendapatkan kepastian apakah penyakit yang diidapnya bener-bener seperti yang dia katakan. Dia hanya mengatakan gejala yang dirasakan seperti apa yang dirasakan temennya yang sudah divonis menderita kanker otak. Biaya periksa dokter terlalu mahal buat dirinya yang hanya anak keluarga petani kecil. Semoga saja apa yang dideritanya bukan seperti yang dia katakan....

Sabtu, 07 Februari 2009

ayah


biasanya kalo ada yang memanggil aku dgn sebutan "bapak" aku tidak begitu suka--walopun dilihat dari usiaku memang sudah boleh disebut bapak--rasanya aneh dgn statusku yang masih single disebut bapak. Tapi ketika ada seseorang anak yang meminta diperbolehkan dia memanggilku "ayah" entahlah, aku senang sekali bahkan terharu mendengar permintaan aneh itu. Dia masih remaja, yah baru 18 tahun. dia bilang ingin menjadikanku sebagai ayahnya, tentu saja bukan ayah biologis namun sepertinya secara psikologis. aku hanya menduga, seseorang anak or remaja yang ingin menyebut lelaki lain yang lebih tua sebagai "ayahnya" pasti ada masalah dgn keluarganya. mungkin ayahnya sudah meninggal atau bercerai dgn ibunya sejak kecil sehingga dia tidak punya figur seorang ayah atau biasanya hubungannya dengan ayah kandungnya tidak harmonis sehingga dia tidak memiliki sosok ayah yang diimpikan seorang anak-anak yakni sebagai pelindung, pengayom, pendidik dan teladan. setelah beberapa kali ngobrol dengan dia--lewat SMS--ternyata dugaanku benar dan malam ini terjawab sudah mengapa dia ingin memanggilku sekaligus menganggapku sebagai "ayah" buat dirinya. Hubungan dia dengan ayah kandungnya tertanyata tidak harmonis. Aku tak tahu apakah aku bisa menjadi "ayah" seperti yang dia harapkan, yang jelas aku merasa bahagia karena hidupku memiliki arti buat orang lain.

awal sebuah rasa

terwujud juga sebuah ruang, untuk ngungkapin sgala yang kurasa dalam jiwa namun tak pernah bisa terucap lewat suara. Sebagai manusia biasa yang dikaruniai cinta, akupun ingin mengungkapkannya, namun apa daya yang kurasakan berbeda dengan mereka, yang ku angankan tidak sama dengan angan mereka dan mimpi-mimpiku mungkin juga tak seperti yang mereka impikan. ingin kuwujudkan apa yang kurasakan namun entah kemana karena duniaku hanya dipandang seperti sebongkah lumpur dihamparan salju, ingin ungkapkan apa yang kuimpikan namun malam pun tak bersahabat memberikan ranjangnya untuk sekedar bermimpi. kini hanya lewat kata-kata kulampiaskan segala gejolak kemanusiaanku, karena ku adalah manusia yang juga memiliki keinginan untuk mencintai dan dicintai.