
biasanya kalo ada yang memanggil aku dgn sebutan "bapak" aku tidak begitu suka--walopun dilihat dari usiaku memang sudah boleh disebut bapak--rasanya aneh dgn statusku yang masih single disebut bapak. Tapi ketika ada seseorang anak yang meminta diperbolehkan dia memanggilku "ayah" entahlah, aku senang sekali bahkan terharu mendengar permintaan aneh itu. Dia masih remaja, yah baru 18 tahun. dia bilang ingin menjadikanku sebagai ayahnya, tentu saja bukan ayah biologis namun sepertinya secara psikologis. aku hanya menduga, seseorang anak or remaja yang ingin menyebut lelaki lain yang lebih tua sebagai "ayahnya" pasti ada masalah dgn keluarganya. mungkin ayahnya sudah meninggal atau bercerai dgn ibunya sejak kecil sehingga dia tidak punya figur seorang ayah atau biasanya hubungannya dengan ayah kandungnya tidak harmonis sehingga dia tidak memiliki sosok ayah yang diimpikan seorang anak-anak yakni sebagai pelindung, pengayom, pendidik dan teladan. setelah beberapa kali ngobrol dengan dia--lewat SMS--ternyata dugaanku benar dan malam ini terjawab sudah mengapa dia ingin memanggilku sekaligus menganggapku sebagai "ayah" buat dirinya. Hubungan dia dengan ayah kandungnya tertanyata tidak harmonis. Aku tak tahu apakah aku bisa menjadi "ayah" seperti yang dia harapkan, yang jelas aku merasa bahagia karena hidupku memiliki arti buat orang lain.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar